pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Kisah Isra’ Mi’raj: Perjalanan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha dan Perintah Shalat

Kisah Isra’ Mi’raj: Perjalanan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha dan Perintah Shalat

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta. 

Penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
 

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.  

Perjalanan luar biasa ini dimulai saat Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq dengan pendampingan Malaikat Jibril. Setibanya di langit pertama, Jibril meminta izin untuk masuk. Setelah memastikan bahwa yang datang adalah Rasulullah, para malaikat menyambut beliau dengan penuh kemuliaan.

Di setiap tingkatan langit, Rasulullah bertemu dengan para nabi terdahulu:

Dilangit pertama bertemu Nabi Adam AS, bapak dari seluruh manusia. Beliau saling bertukar salam sebagai bentuk penghormatan. Dilangit kedua bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Dilangit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS. Dilangit keempat bertemu Nabi Idris AS. Dilangit kelima bertemu Nabi Harun AS. Dilangit keenam bertemu Nabi Musa AS. Di sini Nabi Musa menangis karena haru melihat umat Nabi Muhammad akan lebih banyak yang masuk surga dibanding umatnya. Dilangit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim AS.

Setelah melampaui langit ketujuh, Nabi menuju Sidratul Muntaha dan Baitul Makmur, tempat suci di mana ribuan malaikat beribadah setiap harinya. Di sana, beliau diberi pilihan antara khamar, madu, dan susu. Nabi memilih susu, yang oleh Jibril disebut sebagai simbol fitrah (kemurnian) bagi beliau dan umatnya.

Di hadapan Allah SWT, Nabi awalnya menerima perintah shalat sebanyak 50 waktu. Namun, atas saran Nabi Musa yang paham beratnya beban tersebut bagi manusia, Nabi Muhammad berkali-kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya Allah menetapkan 5 waktu dalam sehari. Meski Nabi Musa masih menyarankan untuk minta keringanan lagi, Rasulullah merasa malu dan ridha menerima ketetapan tersebut.

Sekembalinya ke bumi, Nabi menceritakan kejadian ini. Banyak kaum Quraisy yang mengejek dan menganggapnya dusta, bahkan beberapa orang yang lemah imannya menjadi murtad. Namun, Abu Bakar dengan tegas membenarkannya tanpa ragu sedikit pun. Karena keyakinannya yang teguh inilah, beliau dijuluki As-Shiddiq (yang terpercaya/sangat jujur).

Pelajaran Penting:

Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.  

1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad 

Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam.   

Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.      

2. Kewajiban Shalat Lima Waktu

Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.  

Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.  

3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa

Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.      

4. Membela Perjuangan Agama

Pada Isra' Mi'raj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta.

 

Penyusun: Tim Redaksi WEB Zahanain